Sekolah Rakyat 3,000 Siswa: Sumatera Barat & Sulawesi Selatan

Hari W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Sekolah Rakyat 3,000 Siswa: Sumatera Barat & Sulawesi Selatan

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Pemerintah lewat Kementerian Pekerjaan Umum akan segera membangun Sekolah Rakyat terbesar di Nagari Tanjung Gadih, Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sekolah Rakyat tersebut ditargetkan bisa menampung hingga 3.000 pelajar. Lahan seluas 16 hektare sudah memasuki fase pematangan, menandai langkah awal proyek ini.

“Pokoknya, (pembangunan dimulai) secepat-cepatnya, saat ini Nindya Karya sedang pematangan lahan. Tadinya dia minta tiga minggu. Tapi saya minta dalam satu minggu (pematangan lahan) selesai,” kata Menteri PU Dody Hanggodo. Ia menegaskan bahwa pengerjaan tidak boleh dilakukan sembarangan, karena bangunan ini termasuk kategori high risk building.

“Secepatnya, tapi tidak bisa sembarangan juga, karena bangunan ini high risk building. Kalau sembarangan, takutnya ambruk,” jelasnya. Menteri Hanggodo juga meminta agar akses jalan menuju kawasan sekolah diperlebar hingga 5,5 meter agar distribusi logistik, seperti kebutuhan makanan bagi ribuan siswa, dapat berjalan lancar.

Tanah pembangunan berasal dari hibah keluarga besar Dony Oskaria, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bupati Tanah Datar Eka Putra mengatakan lahan seluas 10 hektare sudah diberikan, dan ia meminta tambahan sekitar 6 hektare lagi. “Keluarga besar Pak Dony Oskaria menghibahkan tanah kepada kami sekitar 10 hektare, dan ini kita minta tambah 6 hektare lagi. Hibahnya sudah berjalan dan proses sertifikat juga sudah selesai,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa proyek ini sudah melibatkan tenaga kerja lokal sesuai ketentuan yang berlaku.

“Sekarang warga lokal sudah banyak yang bekerja di sini,” tambah Eka Putra, menyoroti dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Di Sulawesi Selatan, pemerintah juga memulai pembangunan Sekolah Rakyat di lima kabupaten: Tana Toraja, Sidrap, Wajo, Soppeng, dan Barru. Melalui PT Waskita Karya, proyek ini sedang disusun oleh Direktur Operasi II Waskita Karya, Paulus Budi Kartiko. Ia menyatakan bahwa sekitar 3.000 pekerja terlibat, dengan 41% di antaranya tenaga kerja lokal.

“Seluruh tim bekerja siang dan malam dengan semangat secara bergantian, demi menjaga target pembangunan agar selesai tepat waktu. Kondisi lapangan yang cukup dinamis ditambah cuaca hujan menjadi tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan, tapi kami tetap berkomitmen menjaga mutu dengan baik sesuai standar dan spesifikasi yang berlaku,” ujar Paulus.

Proyek Sekolah Rakyat Sulawesi Selatan mencakup asrama siswa, asrama guru, sarana ibadah, ruang serbaguna, dan fasilitas lainnya. “Proyek ini diharapkan mampu menghadirkan fasilitas yang lebih layak dan aman bagi ratusan ribu siswa. Kami juga mempertimbangkan faktor-faktor seperti keberlanjutan serta kemampuan beradaptasi demi memastikan bangunan dapat mendorong kegiatan belajar dan mengajar secara maksimal,” ungkap Paulus.

Dengan dua inisiatif ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan di daerah terpencil. Fokus pada pembangunan infrastruktur yang aman, melibatkan tenaga kerja lokal, dan memperhatikan kelayakan lingkungan menjadi kunci utama. Proyek-proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas pendidikan, tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi regional melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas fasilitas belajar.

Sekolah RakyatPekerjaan UmumTanah DatarSumatera BaratSulawesi SelatanHibahTenaga Kerja Lokal

Komentar

Memuat komentar...