Setoran Negara Freeport Turun Jadi US$ 2,6 Miliar

Bambang W. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Setoran Negara Freeport Turun Jadi US$ 2,6 Miliar

Gambar atau konten salah?

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengungkapkan proyeksi setoran negara dari perusahaannya pada tahun ini. Angkanya mencapai US$ 2,6 miliar atau setara dengan sekitar Rp 46,8 triliun, dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS.

Proyeksi itu dibuat berdasarkan target produksi. Freeport menargetkan produksi katoda tembaga sebanyak 800 juta pon dan emas sebanyak 700 ribu ons. Harga yang digunakan sebagai acuan adalah US$ 6 per pon untuk tembaga dan US$ 4.500 per ons untuk emas.

"Kalau kita lihat di tahun 2026 penerimaan negara yang terdiri dari pajak, dividen, dan royalti itu memang menurun menjadi US$ 2,6 miliar dari tahun lalu US$ 4,3 miliar," kata Tony dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Jakarta pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dari jumlah tersebut, kontribusi terbesar berasal dari dividen yang diberikan kepada MIND ID, yaitu sebesar US$ 1,1 miliar. Sementara itu, penerimaan dari pajak diperkirakan mencapai US$ 1 miliar, dan royalti sebesar US$ 500 juta.

"Tapi di dalam sini masih juga akan ada dividen sebesar US$ 1,1 miliar yang akan diterima oleh pemerintah melalui MIND ID," jelas Tony.

Penurunan setoran ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa insiden yang mempengaruhi kinerja Freeport. Kebakaran smelter pada tahun 2024 menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi, longsor yang terjadi di tambang Grassberg, Papua, pada akhir tahun 2025 lalu turut memperburuk situasi.

Akibat rangkaian insiden tersebut, sepanjang tahun ini Freeport banyak melakukan perbaikan dan pembenahan. Operasional tambang belum bisa berjalan normal. Targetnya, tahun ini tambang hanya bisa beroperasi pada 65% dari kapasitas penuh. Baru pada tahun 2027, kapasitas operasional diharapkan bisa mencapai 100%.

Sementara untuk smelter, proses pemurnian konsentrat baru bisa dimulai pada September 2026 mendatang.

"Semester satu tahun depan akan mencapai 75% dari kapasitas, dan menuju akhir tahun di 2027 itu akan menuju ke 100% kapasitas," ungkap Tony.

Seiring dengan pemulihan operasional, Tony memperkirakan setoran ke negara akan kembali meningkat pada tahun 2027. Proyeksinya, Freeport akan menyetor US$ 4,7 miliar ke negara. Rinciannya, dividen sebesar US$ 1,9 miliar, pajak US$ 1,9 miliar, dan royalti US$ 800 juta.

"Kalau kita lihat proyeksi di tahun 2027 sesuai dengan peningkatan produksi kita, itu akan penerimaan negara akan bisa mencapai US$ 4,7 miliar," ujar Tony.

Proyeksi jangka panjangnya lebih tinggi lagi. Jika seluruh operasional sudah pulih secara optimal, di tahun 2028 setoran negara dari Freeport diperkirakan bisa tembus US$ 7,1 miliar.

"Dan kalau kita lihat itu masuk sudah kapasitas produksi penuh, kita lihat bahwa penerimaan negara akan bisa melebihi US$ 7 miliar per tahun. Jadi kalau kita rupiahkan itu kira-kira sekitar Rp 120 triliun per tahun, itu seterusnya selanjutnya di tahun-tahun ke depan," pungkas Tony.

Penurunan setoran tahun ini menjadi gambaran langsung dari dampak gangguan operasional akibat insiden kebakaran dan longsor. Pemulihan bertahap baru terlihat mulai tahun depan, dengan target kapasitas penuh baru tercapai pada 2027.

Freeportsetoran negaraTony Wenastembagaemaskebakaran smelterlongsor Grassberg

Komentar

Memuat komentar...