Suhu -1°C di Puncak Merbabu, Embun Beku Muncul

Rini S. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Suhu -1°C di Puncak Merbabu, Embun Beku Muncul

Gambar atau konten salah?

Boyolali – Suhu udara yang sangat dingin akhir-akhir ini memicu terbentuknya embun beku di puncak Gunung Merbabu. Suhu di titik tertinggi gunung itu bahkan tercatat mencapai -1°C. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengeluarkan peringatan kepada para pendaki agar waspada terhadap bahaya hipotermia.

“Nggih, leres (Iya, betul). Sampai weekend (akhir pekan) kemarin fenomena embun beku ini masih sering terjadi di jalur pendakian Gunung Merbabu,” kata Humas BTNGMb, Dian Saraswati, pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dian menjelaskan, berdasarkan pemantauan suhu dan kelembaban udara yang dilakukan petugas di jalur pendakian, kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu mulai mengalami fenomena bediding. Bediding adalah penurunan suhu udara secara ekstrem yang biasa terjadi pada musim kemarau di daerah pegunungan.

“Kondisi dingin yang ekstrem pada malam hingga dini hari ini berpotensi tinggi memicu hipotermia bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan dengan matang,” jelas dia.

Menurut rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena penurunan suhu udara yang signifikan ini adalah siklus alam yang normal terjadi saat memasuki puncak musim kemarau. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga September 2026 mendatang.

Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena elevasinya yang tinggi, penurunan suhu di Gunung Merbabu terasa jauh lebih ekstrem dibandingkan daerah lain.

Petugas BTNGMb melakukan pemantauan suhu dan kelembaban di area Pos Sabana 1. Pemantauan menggunakan termometer dan higrometer pada tanggal 9 hingga 10 Juli 2026.

Hasilnya, pada tanggal 9 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, suhu udara mencapai 6 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban 54 persen.

“Kemudian pada tanggal 10 Juli 2026 pukul 05.30 WIB suhu udara -1 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban 46 persen,” ungkap Dian.

Lalu pada pukul 06.00 WIB, suhu udara sudah meningkat lagi menjadi 3 derajat Celcius dan tingkat kelembaban 44 persen.

Dari foto dokumentasi pemantauan yang diterima dari BTNGMb, terlihat puncak Gunung Merbabu berselimut embun beku. Rerumputan tampak memutih karena tertutup embun beku.

“Data tersebut menunjukkan bahwa suhu udara di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada musim kemarau dapat turun hingga di bawah 10 derajat Celcius. Bahkan mencapai -1°C pada dini hari. Kondisi ini sejalan dengan penjelasan BMKG mengenai fenomena mbediding yang terjadi selama puncak musim kemarau, bahkan berdasarkan data telah terbentuk embun beku,” imbuhnya.

Atas kondisi tersebut, BTNGMb mengingatkan para pendaki untuk mewaspadai gejala hipotermia. Paparan suhu udara yang sangat rendah, tiupan angin, serta kondisi pakaian yang basah atau lembap dapat meningkatkan risiko hipotermia. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C.

Pendaki diminta dan wajib peka, mengenali gejala awal hipotermia. Baik pada diri sendiri maupun rekan sekelompoknya. Gejala hipotermia antara lain menggigil hebat secara terus-menerus. Bibir, kuku, dan ujung-ujung jari mulai memucat atau membiru.

“Penurunan konsentrasi dan mulai sulit berpikir jernih. Cara berbicara mulai terbata-bata atau pelo dan tubuh terasa lemas tak bertenaga disertai rasa kantuk yang berat,” terang dia.

Apabila gejala tersebut mulai muncul, pihaknya mengimbau para pendaki untuk tidak memaksakan melanjutkan perjalanan. Sebaliknya, segera mencari lokasi yang terlindung dari angin, lalu ganti pakaian yang basah dengan pakaian kering. Kemudian menghangatkan tubuh secara bertahap, konsumsi minuman hangat apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada petugas apabila kondisi tidak membaik.

Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas mutlak yang tidak boleh dikompromikan oleh estetika panorama kemarau. Musim kemarau memang menyuguhkan pemandangan Gunung Merbabu yang sangat indah dengan langit yang bersih.

“Namun, selaras dengan peringatan BMKG mengenai puncak kemarau, fenomena mbediding membawa risiko suhu ekstrem hingga -1 derajat Celcius di lapangan. Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat. Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat,” tegasnya.

Pihaknya mengajak seluruh komunitas pencinta alam dan masyarakat luas untuk bersama-sama menerapkan prinsip safety first demi mewujudkan aktivitas wisata alam yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.

Fenomena embun beku di puncak Gunung Merbabu ini merupakan bagian dari siklus alam yang terjadi setiap tahun saat puncak musim kemarau. Meskipun pemandangannya indah, suhu yang mencapai -1°C pada dini hari membawa risiko serius bagi pendaki yang tidak siap. Data pemantauan menunjukkan fluktuasi suhu yang drastis dalam hitungan jam, dari -1°C pada pukul 05.30 WIB menjadi 3°C hanya 30 menit kemudian. Hal ini menekankan pentingnya persiapan matang, termasuk perlengkapan hangat dan pemahaman tentang gejala hipotermia, sebelum memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu selama periode ini.

embun bekuGunung Merbabuhipotermiasuhu ekstremmusim kemaraupendakiperingatan

Komentar

Memuat komentar...