Tanker Pertamina Terjebak Hormuz, Malaysia Dapat Keluar

Dwi H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 46 dibaca
Bisik.id
Tanker Pertamina Terjebak Hormuz, Malaysia Dapat Keluar

Gambar atau konten salah?

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengungkapkan kekhawatiran atas keputusan Iran yang belum membuka Selat Hormuz bagi kapal Indonesia. Situasi ini membuat dua tanker Pertamina tetap terjebak di Teluk Arab.

Di sisi lain, kapal-kapal Malaysia sudah mendapatkan izin lewat Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia tetap berupaya memaksa keluar dua tanker Pertamina melalui negosiasi intensif.

Di kantor Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, pada Jumat, 27 Maret 2026, Bahlil menyatakan, “Ya kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz,” dia tambah.

Sejak 17 Maret 2025, Bahlil sudah menemui pejabat di Kementerian ESDM. Ia mengatakan, “Masih negosiasi sekarang. Kan ini kan antrean panjang. Lagi dalam negosiasi, ya. Kasih kami waktu ya. Masih negosiasi, masih negosiasi,” ia ungkap.

Menjelaskan dinamika geopolitik, Bahlil menegaskan, “Alhamdulillah kita sekalipun dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai, tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz itu sudah mulai ada kebijakan tutup‑buka,” kata ia.

Iran telah membuka Selat Hormuz bagi negara-negara yang dianggapnya bersahabat. Menurut pernyataan Konsulat Jenderal Iran di Mumbai, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan, “Kami mengizinkan pelayaran melalui Selat Hormuz bagi negara‑negara sahabat termasuk China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan,” ia tulis.

Negara-negara tersebut, termasuk Pakistan dan Rusia, kini dapat melewati selat tersebut. Kapal tanker dari negara-negara tersebut diberi lampu hijau dan dapat keluar dari Teluk Arab.

Malaysia juga memperoleh izin lewat Selat Hormuz. Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengaku, “Kami sekarang sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” ia sampaikan.

Keputusan ini dihasilkan dari dialog dengan pemimpin Iran, Mesir, Turki, dan negara-negara regional lainnya. Anwar menegaskan rasa terima kasihnya kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin tersebut.

Secara keseluruhan, Indonesia masih menunggu keputusan akhir dari Iran. Sementara itu, kapal Malaysia sudah dapat melanjutkan perjalanan. Situasi ini menyoroti ketergantungan negara pada jalur pelayaran strategis di Teluk Arab.

Selat HormuzIranPertaminaBahlil LahadaliaNegosiasiKapal MalaysiaGeopolitikTeluk Arab

Komentar

Memuat komentar...