Trump Umumkan Akhir Konflik Iran, Harga Minyak Menaik
Gambar atau konten salah?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Israel akan mengakhiri perang melawan Iran dalam waktu 2-3 minggu ke depan. Pernyataan ini datang di tengah ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah.
Konflik memuncak pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran. Tindakan tersebut memicu balasan di seluruh wilayah Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz, jalur logistik energi paling penting di dunia. Penutupan ini menekan pasokan minyak global dan membuat harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 60 % sepanjang bulan Maret 2026, mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak catatan dimulai pada tahun 1980‑an.
Meski Trump mengumumkan bahwa konflik akan segera selesai, harga minyak dunia justru terus meningkat. Brent diperdagangkan naik 6,5 % menjadi sekitar US$ 107,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 6 % dan ditutup sedikit di atas US$ 106 per barel. Pergerakan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lama, menurunkan permintaan akibat harga tinggi atau pasokan terbatas.
Menurut analis di Goldman Sachs, “Jika ekspor minyak Timur Tengah tetap rendah dalam jangka waktu yang lebih lama, kami melihat potensi penurunan permintaan bensin dan solar yang signifikan akibat kenaikan harga di pasar terbesar dengan harga yang fleksibel (misalnya AS) dan pasar negara berkembang di mana harga telah naik tajam dan permintaan bahan bakar cenderung relatif sensitif terhadap harga (misalnya Afrika Selatan, Filipina, Malaysia, Vietnam),” kata analis tersebut dalam sebuah catatan, dikutip dari CNBC, Kamis (2 April 2026). “Kantong‑kantong penurunan permintaan yang lebih jelas telah muncul di pasar‑pasar tertentu, termasuk di industri penerbangan dan petrokimia Asia,” tambahnya.
Di sisi lain, Scott Shelton, analis energi di TP ICAP, memperkirakan bahwa kerugian total selama perang berlangsung hingga saat ini akan mencapai sekitar 500 juta barel minyak mentah dan produk olahan seperti solar, bahan bakar jet, dan bensin. “Jika (perang) berakhir dalam dua hingga tiga minggu dan Selat Hormuz dibuka kembali, saya pikir kita akan memiliki cukup minyak untuk bertahan dari guncangan harga minyak ini,” katanya. “Jika Trump dapat menjamin ini berakhir dalam 2‑3 minggu, saya pikir kita tidak perlu sampai pada tingkat di mana kerugian permintaan sama dengan kerugian pasokan. Meskipun demikian, bagaimana dia benar-benar mencapai hal itu sehingga pasar minyak cukup nyaman untuk tidak sampai ke sana?” sambungnya.
Dengan penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung, pasokan minyak global tetap terhambat. Meskipun ada harapan bahwa konflik akan segera berakhir, pasar masih menantang ketidakpastian. Harga minyak yang tinggi menekan konsumen, memaksa mereka mengurangi penggunaan bensin atau mencari alternatif seperti kendaraan listrik atau kendaraan hemat bahan bakar. Di pasar negara berkembang, di mana harga telah naik tajam, permintaan bahan bakar cenderung lebih sensitif terhadap perubahan harga, menambah tekanan pada pasar energi global.
Situasi ini menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik dapat memengaruhi pasokan dan harga minyak secara langsung. Meski ada janji penyelesaian cepat, dampak ekonomi masih terasa, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak dari wilayah ini. Keputusan politik dan tindakan militer di Timur Tengah akan terus memengaruhi dinamika pasar energi, menunggu apakah konflik dapat segera berakhir tanpa menimbulkan kerugian permintaan yang signifikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Doni Akbar Tekankan Data Akurat dan Modernisasi Rel Kereta
PHK Januari-April 2026: Jawa Barat Terbanyak, 5.044 Orang
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
PHK Januari–Mei 2026 Turun ke 23.470, Proyeksi CORE Naik
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
