UTBK 2026: Peserta Disabilitas Raih Kursi Perguruan Tinggi

Endah K. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 123 dibaca
Bisik.id
UTBK 2026: Peserta Disabilitas Raih Kursi Perguruan Tinggi

Gambar atau konten salah?

21 April 2026 hingga 30 April 2026, Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT 2026 resmi dimulai. Sebanyak 871.496 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti ujian ini, termasuk para peserta disabilitas yang turut mengikuti UTBK‑SNBT 2026.

Semangat para peserta disabilitas tidak sekadar mengikuti ujian, melainkan juga bertekad mewujudkan mimpi kuliah dan cita‑cita yang ingin diraih. Perjuangan mereka terlihat di IPB University (IPB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Jember (Unej).

Di IPB University, Mahasiswa disabilitas daksa Muhammad Tegar Bimo Santoso menampilkan tekad kuat menuntut ilmu. Ia lulusan sekolah formal di Jakarta dan juara IT disabilitas internasional di Korea Selatan (Korsel). Saat berada di lokasi ujian, ayahnya, Mukmin, turut mendampingi dan menaruh harapan besar agar putranya dapat lolos dan melanjutkan studi sesuai cita‑cita.

“(Semangatnya) merupakan kesadaran murni dari sang anak sebagai bekal hidupnya di masa depan,” ungkap Mukmin. Bimo, yang biasa dipanggil Tegar Bimo Santoso, memiliki tujuan spesifik: menjadi ahli di bidang marketing digital dan memperdalam bahasa Jepang. Kakaknya, M Ariek Dimas Santoso, yang juga mengidap distrofi muscular progressive (DMP), pernah menjadi alumni IPB University angkatan 50.

“Dulu Ariek dikasih kursi roda elektrik lho sama Pak Herry (Rektor IPB periode 2007-2017),” kenang Mukmin tentang perhatian kampus terhadap mahasiswa disabilitas.

Peserta disabilitas daksa lainnya, Kevin Christian Rihandi, telah mematangkan persiapan menjelang ujian. Ia lulusan homeschooling entrepreneur dan memiliki target jurusan Management Property. Ibunda Kevin, Devi, menegaskan harapannya.

“(Harapannya) dapat masuk jurusan sesuai keinginan karena dia sudah semangat dan belajar terus setiap hari,” tutur Ibunda Kevin, Devi.

Di Universitas Airlangga, 22 peserta disabilitas memperjuangkan mimpinya untuk masuk perguruan tinggi. Dua di antaranya adalah Muhammad Pasha Fawwazdian dan Khalifah Nisyapuri.

Muhammad Pasha Fawwazdian, siswa SMAN 16 Surabaya, menjadi salah satu pejuang yang mengikuti UTBK‑SNBT 2026. Sebagai peserta disabilitas tuli, ia bercerita bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengejar impian masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pasha mengaku telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Baginya, ragam soal UTBK kali ini cukup menantang karena terdiri dari tingkat kesulitan yang berbeda‑beda.

“Alhamdulillah saya sudah mempersiapkan UTBK ini dengan sebaik mungkin. Soalnya ada yang sulit dan ada juga yang gampang, tapi insyaallah bisa saya kerjakan,” ujar Pasha, dikutip dari laman Unair, Selasa (21/4/2026).

Ia memilih Program Studi Psikologi Universitas Airlangga (Unair) karena ketertarikannya untuk membantu sesama, terutama dalam bidang konseling, dan bercita‑cita menjadi seorang psikiater di masa depan. Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi bahan bakar utamanya.

“Pesan saya, disabilitas bukanlah halangan. Jadikan disabilitas sebagai power dan kelebihan tersendiri. Saya banyak mengalami pembullyan verbal, tapi itu justru membuat saya semakin kuat,” tuturnya dengan penuh semangat.

Peserta lain, Khalifah Nisyapuri, seorang disabilitas daksa asal SMAN 4 Sidoarjo, sempat merasa gugup sebelum memasuki ruang ujian. Namun, rasa khawatir itu sirna saat melihat kesiapan panitia. Khalifah bercerita bahwa fasilitas kampus sangat memudahkan mobilitasnya.

“Awalnya nervous karena takut soalnya susah, tapi setelah masuk saya merasa senang. Saya banyak dibantu oleh petugas, mulai dari naik lift hingga masuk ke ruang ujian,” ungkap Khalifah di lokasi UTBK Unair, Surabaya.

Ia sangat mengapresiasi aksesibilitas yang disediakan, terutama bantuan petugas yang mendampinginya hingga ke lantai sembilan. Baginya, dukungan teknis seperti ini sangat krusial dalam menjaga fokus.

“Ternyata kita punya kesempatan yang sama, dan itu keren banget,” tuturnya. Ia menitipkan pesan bagi seluruh rekan pejuang PTN agar tidak rendah diri dalam mengejar cita‑cita.

“Pesan saya, jangan takut mencoba dan jangan pernah patah semangat,” pungkasnya.

Di Universitas Jember, Muhammad Derbian Dwi Putra, peserta disabilitas daksa asal Bondowoso, menceritakan pengalamannya saat menempuh ujian. Ia merasa sangat percaya diri berhadapan dengan soal‑soal berkat dukungan fasilitas ruangan yang sangat memadai.

“Ruangannya bagus, AC-nya dingin, posisi kursi dan komputer juga sesuai dan sama sekali tidak menyulitkan. Hal-hal seperti itu membuat saya lebih tenang dan bisa fokus mengerjakan soal,” ucap peserta disabilitas yang akrab disapa Derbi itu.

Keteguhan Derbi terlihat ketika ia membidik Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNEJ. Mengidolakan sosok Tere Liye, Derbi menaruh harapan besar agar lolos seleksi demi mewujudkan cita‑cita menjadi seorang penulis hebat di masa depan.

Berbeda dengan Derbi yang merasa cukup mulus saat mengerjakan soal, Yogi Ardiansyah, peserta disabilitas Daksa asal Jember, mengaku harus memutar otak lebih keras. Ia sempat mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan soal penalaran matematika di layar komputernya.

“Meskipun begitu, pengalaman menantang tersebut sama sekali tak menyurutkan tekad Yogi. Ia bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknologi Informasi UNEJ,” jelas narasi tentang Yogi. Ia bercita‑cita menjadi seorang dosen, terinspirasi dari gaya mengajar para dosen UNEJ yang menurutnya keren dan memotivasi.

Pengalaman memeras keringat di ruang ujian juga dirasakan oleh Carissa Vania Artamevira, peserta disabilitas tuli asal Jember. Ia menuturkan harus menghadapi tantangan berat saat mengerjakan soal‑soal pengetahuan kuantitatif.

“Namun, Vania tetap mengerahkan seluruh kemampuannya secara maksimal demi mengamankan satu kursi di program studi bidang Psikologi impiannya,” dikatakan Carissa.

Usai menyelesaikan ujian dengan lancar, Derbi menaruh harapan agar fasilitas ramah disabilitas di lingkungan kampus dapat terus dipertahankan. Ia juga menitipkan pesan penyemangat bagi sesama pejuang UTBK.

“Untuk teman‑teman penyandang disabilitas, tetap semangat dan jangan ragu untuk mencoba. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin, siapa tahu bisa berhasil dan meraih apa yang diimpikan,” tutupnya.

UTBK‑SNBT 2026 tidak hanya menjadi ajang seleksi akademik, tetapi juga platform bagi peserta disabilitas untuk menunjukkan ketangguhan dan tekad. Dari IPB hingga Unair dan UNEJ, kisah mereka menegaskan bahwa dengan dukungan fasilitas yang memadai dan semangat yang tak tergoyahkan, batasan fisik tidak menjadi penghalang bagi pencapaian cita‑cita pendidikan tinggi.

UTBK SNBT 2026peserta disabilitasaksesibilitas kampusIPB UniversityUniversitas AirlanggaUniversitas Jemberketangguhanpendidikan tinggi

Komentar

Memuat komentar...