UTBK SNBT: Skor Subtes, Bukan Rata-Rata, Penerimaan
Gambar atau konten salah?
Peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) seringkali mengira bahwa skor tertinggi otomatis menjamin penerimaan. Namun, ketua umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok menjelaskan bahwa hal itu tidak selalu benar.
Ia menegaskan bahwa panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tidak menetapkan skor rata‑rata dalam UTBK SNBT. Sebaliknya, tes tersebut terdiri dari tujuh subtes, masing‑masing memiliki skor sendiri. Skor subtes tertentu akan menjadi pemberat ketika menentukan kelulusan untuk program studi yang dipilih.
“Sehingga sejatinya kita tidak punya nilai rata‑rata. Jadi, ketika ada yang beredar di medsos, ‘Anak saya nilai skornya 700 sekian, 750, (tapi) teman 730 lulus’, Kita tidak punya skor rata‑rata, yang ada skor per subtes di mana skor per subtes ini akan ditentukan bobotnya berdasarkan prodi yang dipilih,” jelas Eduart dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (RDP Panja) Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru yang disiarkan melalui YouTube TVR Parlemen, dikutip pada 5 Juni 2026.
Ia menambahkan contoh konkret: “Bisa saja kalau dirata‑rata saya lebih rendah dari Pak Muryanto. Tapi ketika kami memilih prodi di mana yang mengedepankan penalaran matematik dan skor penalaran matematik saya lebih, maka tentu bobot terhadap hasil UTBK saya untuk pilihan prodi tersebut akan lebih tinggi.”
Di sertifikat UTBK SNBT 2026, peserta dapat melihat penjabaran skor subtes di tes potensi skolastik maupun tes literasi. Misalnya, pada tes literasi, skor di bidang saintek dan soshum terpisah. Hal ini bertujuan menjelaskan bahwa latar belakang saintek tidak memberi keuntungan otomatis ketika memilih prodi soshum.
Prof. Eduart mengungkapkan, “Terlihat untuk di sini Literasi dalam Bahasa Indonesia itu kita turunkan dalam dua nilai, saintek dan soshum. Ini juga berdasarkan evaluasi tahun lalu, yang memunculkan pertanyaan bahwasanya misalnya anak‑anak dari saintek itu akan lebih diuntungkan ketika memilih prodi soshum dan sebagainya.”
Ia menegaskan kembali pada konferensi pers Hasil SNBT yang digelar secara hybrid pada 25 Mei 2026, “Itu tidak akan terjadi. Semua sudah kita antisipasi dan agar supaya proses seleksi ini fair.”
Dengan sistem bobot subtes, keputusan akhir lebih bergantung pada kecocokan skor dengan kebutuhan program studi, bukan hanya pada total skor. Hal ini menekankan pentingnya memahami struktur UTBK dan memilih program studi yang sesuai dengan keunggulan subtes masing‑masing.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
UGM 2026: 44.972 Pendaftar, 3.729 Kursi, Kompetisi Ketat
ITS Buka Gelombang Kedua Seleksi SMITS ACE 2026 09‑24 Juni
Fulviana Ramadlonia Agung Putri Jadi Wisudawan Termuda UGM
Politeknik Agraria STPN Resmi Jadi Sekolah Kedinasan
AI Sumber dari Filsafat, Katakan Wakil Menteri Pendidikan
Registrasi UM‑PTKIN 2026 Tutup, Ujian SSE 8-14 Juni
Berita Terbaru
Pria 50 Tahun Terjebak di Mobil Menabrak Pohon Kamboja
Empat Jemaah Haji Sumut Meninggal di Mecca, Satunya Padang
Robot Humanoid: Triliunan Dolar, China Pimpin Pasar
Kebijakan Baru Pemerintah Kurangi Pajak Bahan Bakar
Prabowo Kenalkan Tony Robbins di SICC Bogor, Fokus Pangan
UGM 2026: 44.972 Pendaftar, 3.729 Kursi, Kompetisi Ketat
Indonesia Dapat 18 Pengecualian Tarif AS, 10% Khusus
