WFH Satu Hari: Energi Pergeser ke Rumah, Bukan Berkurang

Nurul H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
WFH Satu Hari: Energi Pergeser ke Rumah, Bukan Berkurang

Gambar atau konten salah?

Garis besar kebijakan pemerintah menargetkan penghematan energi dengan memperkenalkan skema kerja fleksibel, yakni work from home (WFH) satu hari dalam seminggu. Skema ini dirancang sebagai upaya menanggulangi potensi krisis energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat.

Walaupun penggunaan energi di kantor pemerintahan dan sektor swasta diperkirakan akan menurun, para ahli menilai bahwa beban energi tidak hilang. Sebaliknya, konsumsi energi akan bergeser ke tingkat rumah tangga. Ronny P. Sasmita, Analis Ekonomi Senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), menegaskan hal tersebut dalam sebuah wawancara.

“Apakah ini (kebijakan WFH) benar-benar menghemat energi atau hanya memindahkan beban? Menurut saya, jawabannya cenderung yang kedua. Secara agregat nasional, konsumsi energi tidak hilang, tapi bergeser dari sektor pemerintah ke rumah tangga. Listrik kantor turun, tapi listrik rumah naik. Internet kantor turun, tapi paket data di rumah meningkat,” kata Ronny ketika dihubungi detikcom, Senin, 30 Maret 2026.

Ronny menambahkan bahwa efisiensi energi di rumah tangga tidak akan sebaik di gedung perkantoran modern, karena tidak semua rumah dirancang dengan efisien. Ia menggunakan analogi, “Kalau dianalogikan, pemerintah seperti 'diet kalori' dengan cara memindahkan porsi makan ke orang lain. Secara neraca pemerintah memang terlihat lebih ramping, tapi beban tidak hilang, hanya berpindah ke pekerja.”

Menurutnya, kebijakan WFH satu hari seminggu tidak netral secara ekonomi dan distribusi beban. Untuk mempertahankan keberlanjutan, pemerintah perlu menyeimbangkan, misalnya dengan memberikan insentif listrik rumah tangga produktif atau subsidi internet. Tanpa itu, risiko kebijakan menjadi efisiensi semu yang menanggung biaya pekerja akan meningkat.

Di sisi lain, Mohammad Ishak Razak, Peneliti Senior di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, memperingatkan bahwa skema WFH dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Ia menjelaskan bahwa pekerja yang WFH mungkin akan keluar rumah untuk pergi ke mal, kafe, atau menjemput anak, semuanya memerlukan kendaraan.

“WFH di sisi lain bisa menambah konsumsi BBM jika pekerja malah ke luar rumah ke mal, kafe, antar jemput anak. Selain itu, akan terjadi pemindahan beban energi dari kantor ke rumah, berupa peningkatan konsumsi listrik yang sebagian digerakkan dengan pembangkit BBM dan gas juga,” ujar Ishak kepada detikcom.

Untuk jangka panjang, Ishak menyarankan pemerintah segera melakukan beberapa langkah. Pertama, meningkatkan investasi pada fasilitas transportasi umum agar masyarakat dapat beralih dari kendaraan pribadi. Kedua, mempercepat adopsi kendaraan listrik, termasuk kendaraan umum, ojek online, dan kendaraan dinas. Ketiga, memperbanyak penggunaan pembangkit energi terbarukan.

Dengan demikian, kebijakan WFH yang semata-mata mengurangi penggunaan energi di kantor tidak menjamin penghematan energi nasional. Perubahan pola konsumsi di rumah tangga dan potensi peningkatan penggunaan BBM harus dipertimbangkan dalam perencanaan kebijakan energi yang lebih komprehensif.

kebijakan WFHpenghematan energibeban energi rumah tanggaBBMtransportasi umumkendaraan listrikenergi terbarukan

Komentar

Memuat komentar...