WNI Terdakwa Presentasi Palsu di Konferensi Internasional Denmark

Tika M. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 109 dibaca
Bisik.id
WNI Terdakwa Presentasi Palsu di Konferensi Internasional Denmark

Gambar atau konten salah?

Kasus dugaan presentasi palsu di sebuah konferensi ilmiah internasional di Denmark menimbulkan sorotan publik. Seorang warga negara Indonesia (WNI) diduga melakukan pemalsuan riset dengan dua kali presentasi menggunakan nama berbeda, yakni Prihantini dan Rifaldy Fajar. Kasus ini menyoroti betapa pentingnya kredibilitas bagi peneliti yang ingin tampil di panggung global.

Menurut Nuraini Rahma Hanifa dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengikuti konferensi internasional bukan sekadar soal nama. “Di konferensi internasional itu kita memang bisa dapat feedback terhadap metodologi hasil yang kita lakukan, tapi juga salah satu bentuk diseminasi kita, melakukan riset dan berpotensi untuk mendapatkan jejaring baru,” ujarnya pada Sabtu, 30 Mei 2026. Ia menekankan bahwa konferensi memberi kesempatan bagi peneliti untuk memperkenalkan hasil risetnya dan mendapatkan umpan balik yang berharga.

Proses menuju presentasi di konferensi internasional tidak mudah. Sebelum tampil, peneliti harus melewati beberapa tahapan seleksi, dimulai dari penyusunan abstrak. “Dari hasil riset apa yang kita lakukan, nanti kita bikin abstrak jadi kita submit abstraknya dulu nah waktu submit abstrak nanti di konferensi itu kadang ada pilihannya, terutama kalau yang buat mahasiswa buat early career scientist sama buat yang dari negara-negara berkembang,” kata Nuraini. Setelah abstrak diterima, langkah berikutnya adalah seleksi travel grant, yang menjadi faktor penting bagi peneliti muda.

Travel grant membantu menutupi biaya yang biasanya tinggi. “Kita juga bisa submit, mengajukan travel grant nah itu kalau misalkan nanti abstraknya yang diterima, terus aplikasi travel grantnya juga diterima, kita bisa berangkat, kalau misalkan ternyata gak ada travel grant, kalau jaman setelah pandemi sih biasanya suka bisa hybrid,” tambahnya. Biaya registrasi konferensi dapat mencapai Rp 4 juta–Rp 30 juta, belum termasuk tiket pesawat, akomodasi, transportasi lokal, dan uang makan. Dengan bantuan travel grant, peneliti dapat mengikuti acara dengan beban biaya yang lebih ringan.

Menjaga kredibilitas menjadi prioritas utama. “Menurut saya itu menjaga kredibilitas itu penting banget, maksudnya karena saat kita presentasi jangankan di nasional maksudnya jangankan di luar negeri di nasional juga kan kita sebenarnya merepresentasikan kita sendiri merepresentasikan lembaga kita terus kalau di luar negeri itu kan merepresentasikan Indonesia,” ungkapnya. Ia menilai bahwa satu kasus dugaan presentasi palsu dapat merusak citra peneliti Indonesia secara keseluruhan, sehingga penting bagi setiap peneliti untuk mematuhi standar etika dan prosedur verifikasi.

Teknologi AI menambah tantangan baru. “AI itu powerful banget ya, jadi kalau kita pintar nge-prompt itu kan, memang bisa dibikinin sama AI kan iya. Jadi misalkan kita ke AI itu pengen riset ini gimana caranya karena kan yang diverifikasi cuma abstract ya, saat kita submit itu, dan abstrak itu memang bisa dibikinin ChatGPT,” bebernya. Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan AI tidak dapat menutupi kurangnya pemahaman mendalam. “Tapi kan kita harus mempresentasikan hasilnya, terus mempresentasikan hasilnya. Kalau misalkan dibuat ini, kan, kalau saya baca, kayaknya saat diskusi itu dia tidak bisa menjawab, maksudnya banyak kejanggalan itu muncul saat presentasinya, ya,” tuturnya.

Untuk menghindari konferensi palsu, Nuraini menyarankan peneliti muda memverifikasi reputasi acara. “Yang udah well established itu pasti dilaksanakannya setiap tahun atau setiap dua tahun, ada yang setiap empat tahun, dan di lingkungan kita itu, apa namanya, maksudnya rekan-rekan kita, profesor kita, kalau kita sih biasanya mulai dari kita S3 ya, misalkan dari kita S3, profesor kita,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya bertanya kepada dosen pembimbing atau senior sebelum mendaftar. “Nah, kalau misalkan yang abal-abal, kadang dia ada sirkulasi di email, tapi kita gak ngerti, ini siapa gitu. Nah itu kadang juga perlu kita verifikasi ya ada yang kita kenal atau enggak gitu, biasanya sih biasanya sih ya apa namanya, pasti ada lah rekan kita yang kita udah kenal,” tuturnya.

Meski ada risiko, Nuraini mengajak mahasiswa dan peneliti muda untuk tidak takut mencoba. “Mahasiswa-mahasiswa, kalau ada kesempatan konferensi global, ikutlah cobain karena itu kesempatan yang luar biasa. Kita akan ketemu sama orang-orang yang sebidang, terus kita akan lihat gimana sih di luar negeri bidang yang kita minati itu berkembang metode-metode yang mungkin baru buat kita gitu,” serunya. Ia berharap pengalaman ini dapat membuka wawasan baru dan memperkuat jaringan internasional peneliti Indonesia.

Kasus ini menegaskan bahwa kredibilitas dan proses seleksi yang ketat tetap menjadi landasan bagi peneliti yang ingin tampil di arena global. Dengan memanfaatkan travel grant, menjaga standar etika, dan memanfaatkan teknologi AI secara bijak, peneliti Indonesia dapat memperkuat posisi mereka di komunitas ilmiah internasional tanpa mengorbankan integritas.

presentasi palsukonferensi internasionaltravel grantkredibilitasAI ChatGPTpeneliti Indonesiaetika penelitianverifikasi reputasi acara

Komentar

Memuat komentar...