320 Siswa Baru SMAN 5 Bandung Ikuti MPLS Perdana Sekolah Maung

Ratna D. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
320 Siswa Baru SMAN 5 Bandung Ikuti MPLS Perdana Sekolah Maung

Gambar atau konten salah?

Sebanyak 320 siswa baru SMAN 5 Bandung memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Rabu, 15 Juli 2026. Ini adalah kali pertama MPLS digelar setelah sekolah tersebut resmi menyandang status Sekolah Manusia Unggul (Maung) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

MPLS tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan sekadar perkenalan lingkungan sekolah, kegiatan ini menjadi awal pembentukan karakter siswa. Konsep Sekolah Maung dipadukan dengan pengembangan bakat, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 5 Bandung, Revy Hapyan, menjelaskan bahwa hari pertama MPLS dimulai dengan pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat. Setelah itu, siswa diperkenalkan dengan para guru dan jajaran manajemen sekolah. Kegiatan dilanjutkan dengan pendidikan karakter berbasis nilai Pancawaluya.

"Kegiatan MPLS hari pertama ya, tadi ada pembukaan oleh Pak Kadis, dilanjutkan perkenalan dengan guru, para manajemen, dan juga sekarang ini pendidikan karakter Pancawaluya. Setelah itu nanti ada pengenalan kurikulum, ada pengenalan terhadap visi misi, ada juga tentang peraturan di sekolah, dan juga kita ada pemateri-pemateri dari luar, dari unsur TNI-Polri, dari BNN, dan juga dari Kesbangpol Kota Bandung," kata Revy.

Menurut Revy, status baru sebagai Sekolah Maung membuat MPLS tahun ini memiliki perbedaan mendasar. Salah satu yang paling terlihat adalah proses penerimaan siswa yang lebih selektif. Ada juga program-program khusus yang menjadi ciri khas Sekolah Maung.

"Yang paling eksplisit ya yang membedakan di Sekolah Maung itu pertama dari input siswanya ya. Jadi kita khusus siswa yang sudah tersaring," ujarnya.

Pada penutupan MPLS nanti, para siswa akan mengikuti kegiatan Unjuk Kabisa dan Aksi Ekologi. Dua kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan potensi sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.

"Yang selanjutnya kita ada program Unjuk Kabisa dan Aksi Ekologi nanti di hari terakhir. Di hari terakhir ada Unjuk Kabisa, bagaimana talenta-talenta siswa ini kelas 10 akan tampil di nanti di hari terakhir," katanya.

Revy menjelaskan, Unjuk Kabisa menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Baik di bidang akademik maupun nonakademik.

"Iya dari situ, dari non-akademik itu. Dan kemungkinan dari jalur yang lain juga pasti ditampilkan. Misalkan dia ikut jalur rapor di sini tapi dia punya talenta di bidang silat misalkan, di bidang yang lainnya," jelasnya.

MPLS di SMAN 5 Bandung berlangsung selama lima hari. Sebelumnya, ada satu hari pra-MPLS, sehingga total rangkaian kegiatan mencapai enam hari. Selama kegiatan, sekolah memberikan perhatian khusus terhadap aspek keamanan dan kesehatan peserta didik.

"Untuk siswa-siswi, untuk keamanan itu yang pertama anak-anak itu ya apa, untuk menjaga dirinya masing-masing, tidak membahayakan diri dan tidak membahayakan orang lain. Terutama di pagi hari, paling minimal anak-anak itu harus sarapan. Kita juga mengarahkan menghimbau anak-anak untuk membawa juga bekal, nanti makan siang di sini," ujar Revy.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan bahwa MPLS harus dimaknai sebagai proses adaptasi siswa terhadap lingkungan belajar yang baru. Bukan sekadar kegiatan seremonial.

"Ya MPLS kan harus dimaknai sebagai masa untuk memperkenalkan anak-anak kepada lingkungan sekolah yang baru. Jadi diperkenalkan mulai dari tata tertib, lingkungan sarana prasarana, kemudian guru-gurunya, tata tertibnya begitu yang harus menjadi pegangan baik guru maupun siswa dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut," kata Purwanto.

Ia menambahkan, selama MPLS siswa juga harus memahami budaya belajar, aturan sekolah, hingga wawasan lingkungan. Semua itu menjadi bekal menjalani pendidikan selama tiga tahun ke depan.

"Anak-anak harus diperkenalkan kepada orientasi belajar di situ itu apa, tata tertib yang harus diikuti itu apa. Kemudian wawasan lingkungannya seperti apa. Ini yang mesti menjadi perhatian semua pengelola satuan pendidikan gitu di SMA maupun di SMK, termasuk SLB," ujarnya.

Purwanto memastikan pelaksanaan MPLS tahun ini tetap melibatkan unsur TNI dan Polri di seluruh sekolah. Hal ini sesuai arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Ya hari ini juga melibatkan. Jadi terlibat semua aparat TNI yang dekat dengan lingkungan itu, termasuk kepolisian. Saya sudah minta semua satuan pendidikan untuk melibatkan TNI dan Polri di wilayahnya masing-masing," katanya.

Pada hari kedua MPLS, seluruh pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemprov Jawa Barat juga akan diterjunkan ke sekolah-sekolah. Mereka melakukan pemantauan sekaligus ikut membuka kegiatan MPLS.

"Kemudian juga MPLS-nya juga Pak Gubernur sudah meminta semua pejabat eselon 2, 3 itu bisa terjun ke sekolah-sekolah melakukan monitoring sekaligus terlibat dalam pembukaan MPLS," pungkas Purwanto.

MPLS di SMAN 5 Bandung menjadi salah satu contoh bagaimana sekolah mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dan kepedulian lingkungan sejak hari pertama. Program Unjuk Kabisa dan Aksi Ekologi menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan bakat siswa. Keterlibatan TNI, Polri, BNN, dan Kesbangpol dalam kegiatan ini menambah dimensi pendidikan yang lebih luas bagi para siswa baru.

MPLSSMAN 5 BandungSekolah Maungpendidikan karakterUnjuk KabisaAksi EkologiPancawaluya

Komentar

Memuat komentar...