Fatty Liver Meningkat di Generasi Muda, Tanda Waspada

Vera T. · 3 min baca · 7 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Fatty Liver Meningkat di Generasi Muda, Tanda Waspada

Gambar atau konten salah?

Fatty liver, atau penumpukan lemak di hati, kini menjadi masalah kesehatan yang semakin sering muncul di kalangan generasi muda Indonesia, khususnya yang berusia awal 30-an. Kondisi ini sering disebut silent killer karena berkembang perlahan dan tanpa gejala jelas pada tahap awal, sehingga sulit dideteksi sebelum menimbulkan kerusakan permanen pada organ hati.

Menurut jurnal ilmiah kedokteran global, fatty liver kini dikenal secara medis sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Penyakit ini didefinisikan ketika akumulasi lemak di sel hepatosit melebihi 5 persen dari berat total hati. Penumpukan lemak ini bukan akibat konsumsi alkohol, melainkan akibat gangguan metabolisme tubuh.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa pergeseran tren penyakit ini ke usia produktif menimbulkan tantangan kesehatan serius yang harus segera diintervensi. Salah satu faktor risiko terbesar di Indonesia adalah obesitas.

Para peneliti sepakat bahwa kondisi ini sangat erat kaitannya dengan kebiasaan makan modern yang tidak sehat. Konsumsi makanan tinggi kalori, makanan cepat saji kaya lemak jenuh, serta asupan gula rafinasi—terutama fruktosa yang banyak terdapat pada minuman kemasan manis—menjadi pemicu utama. Kebiasaan makan tersebut memicu resistensi insulin dan mempercepat proses pembentukan lemak baru di hati (de novo lipogenesis), sehingga tubuh gagal menyaring dan membuang lemak secara optimal.

"Fatty liver merupakan salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih karena sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas. Salah satu pemicu utama di balik kondisi ini adalah obesitas, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di tanah air," jelas dr Nadia.

Tren peningkatan kasus fatty liver berbanding lurus dengan lonjakan angka obesitas yang tercatat dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023). Survei nasional tersebut menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral—kondisi perut buncit—pada populasi usia 15 tahun ke atas di Indonesia sudah mencapai 36,8 persen. Sementara itu, kategori klinis obesitas umum pada usia 18 tahun ke atas telah berada di angka 23,4 persen.

"Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati," tutur ucap spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Rino Alvani Gani.

Jika kebiasaan makan buruk dan berat badan berlebih terus diabaikan, lemak yang menumpuk di hati akan memicu reaksi peradangan hebat dan meluasnya kerusakan sel-sel organ dalam. Proses ini mengakibatkan stres oksidatif dan pelepasan zat beracun berulang kali, sehingga sel-sel hati mengalami kerusakan konstan. Organ hati dipaksa terus-menerus menyembuhkan dirinya sendiri, yang pada akhirnya memicu kemunculan jaringan parut kaku atau fibrosis. Jika fibrosis meluas, dapat berujung pada sirosis hati.

Di tengah kerusakan struktural yang parah, sel-sel hati mengalami pembelahan sel yang tidak terkendali untuk menggantikan sel yang rusak. Risiko terjadinya mutasi genetik pada DNA sel hati menjadi sangat tinggi. Mutasi abnormal ini menjadi cikal bakal tumbuhnya sel tumor ganas hingga berkembang menjadi kanker hati stadium lanjut.

Kasus fatty liver yang semakin meluas menuntut perhatian serius dari masyarakat dan lembaga kesehatan. Penanganan dini, perubahan pola makan, dan kontrol berat badan menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi serius seperti fibrosis, sirosis, dan kanker hati. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, generasi muda dapat menghindari risiko penyakit hati yang berkembang secara diam-diam namun berpotensi merusak jangka panjang.

Fatty liverObesitasResistensi insulinFibrosisSirosisKanker hatiDiet tinggi kaloriSurvei Kesehatan Indonesia

Komentar

Memuat komentar...