Gagal Ginjal Akut Mengintai Pelari Marathon

Iwan D. · 2 min baca · 6 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Gagal Ginjal Akut Mengintai Pelari Marathon

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Dalam dunia lari jarak jauh, banyak orang langsung mengaitkan masalah kesehatan dengan jantung. Tapi ada satu organ lain yang juga bisa mengalami kegagalan fungsi saat tubuh dipaksa berlari terlalu keras: ginjal.

Salah satu penyebab utama ginjal berhenti bekerja saat marathon adalah kondisi yang disebut rhabdomyolysis (rabdomiolisis). Ini bukan sekadar kelelahan biasa. Ini adalah kondisi di mana sel-sel otot benar-benar pecah. Saat otot rusak, komponen di dalamnya—seperti protein mioglobin dan elektrolit—terlepas ke aliran darah. Itu yang kemudian menjadi masalah besar.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Jonny, SpPD-KGH, MKes, MM, DCN, FINASIM, menjelaskan bahwa kelelahan ekstrem akibat latihan berlebihan—termasuk lari marathon—bisa memicu pecahnya sel otot. "Exhausted akibat latihan berlebihan, seperti lari marathon dapat menyebabkan pecahnya sel-sel otot, sehingga menyebabkan rhabdomyolysis yang mengakibatkan gangguan ginjal akut," katanya pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Ia menambahkan, jika tidak ditangani cepat, gangguan ginjal akut ini bisa naik ke stadium 3. "Apabila penanganannya kurang cepat, gangguan ginjal akut yang terjadi dapat mencapai stadium 3 yang memerlukan tindakan dialisis," ujarnya. Artinya, pasien harus menjalani cuci darah.

Lalu apa yang memicu rhabdomyolysis? Dokter spesialis penyakit dalam lainnya, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menyebut dua faktor utama: pemanasan yang tidak memadai dan kekurangan cairan tubuh.

"Salah satu penyebabnya sebenarnya kalau pemanasannya itu tidak gradual ya atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap gitu. Bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual misalnya," kata dr Tunggul. Ia menekankan bahwa pemanasan bertahap itu penting—bukan langsung lari kencang dari awal.

Soal cairan, ia bilang dehidrasi memang bukan satu-satunya penyebab utama. Tapi dehidrasi bisa memicu Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut. "Jadi gangguan gagal ginjal akut, jadi bisa memperberat, bisa mencetuskan," katanya. Cuaca panas juga ikut memperparah risiko. Kombinasi dehidrasi dan suhu tinggi membuat seseorang lebih rentan terkena heatstroke.

Dr Tunggul juga menyoroti soal kebiasaan memaksakan diri. Kondisi ini terjadi, katanya, kalau seseorang terus mendorong tubuhnya—push the limit—tanpa menghitung risiko. "Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul.

Tanda-tanda awal kerusakan ginjal ini sebenarnya bisa dikenali. Salah satu yang paling jelas adalah perubahan warna urine. "Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," jelasnya. Warna urine yang gelap bisa menandakan adanya mioglobin—pecahan protein dari otot yang bocor ke darah.

Yang penting diketahui: rhabdomyolysis ini sebenarnya bisa reversible atau bisa pulih jika ditangani cepat. "Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," lanjut dr Tunggul.

Intinya, risiko ginjal kolaps saat marathon bukan hanya soal jantung. Ini soal otot yang pecah, cairan yang kurang, dan tubuh yang dipaksa terus-menerus tanpa jeda. Tanda-tandanya ada—warna urine yang berubah, rasa lelah yang tidak biasa—jangan diabaikan begitu saja.

rhabdomyolysisginjalmarathondehidrasipemanasanototurine

Komentar

Memuat komentar...