Gunung Ciremai: 90% Tutupan Hutan, Air Bersih & Satwa
Gambar atau konten salah?
Kementerian Kehutanan berkomitmen menjaga tutupan vegetasi hutan di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) guna mempertahankan fungsi vitalnya sebagai Tower Air bagi empat kabupaten di Jawa Barat.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, menegaskan bahwa luas konservasi seluas 14.841,3 hektare memegang peran ekologis besar dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.
"Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan berubah, maka masyarakat sekitar yang paling pertama terkena dampak krisis air," kata Toni, 12 Mei 2026.
Melalui upaya rehabilitasi yang konsisten, tutupan vegetasi di TNGC kini telah mencapai hampir 90 persen. Angka tersebut meningkat signifikan dari kondisi sebelum tahun 2004 ketika hutan terbuka akibat beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayur.
TNGC juga menjadi habitat kunci bagi tiga spesies prioritas: Elang Jawa, Macan Tutul, dan Surili. Keberadaan satwa-satwa tersebut menjadi indikator kesehatan lingkungan di gunung tertinggi di Jawa Barat. Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih terjaga. Toni menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang harus kita lindungi bersama habitatnya.
Pengelolaan taman nasional tersebut berbasis gerakan masyarakat. Warga menjadi garda terdepan karena menyadari hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik. TNGC kini mengelola sebanyak 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dengan melibatkan masyarakat dari 54 desa penyangga, salah satunya Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Warga setempat yang dulunya penggarap lahan kawasan taman nasional kini alih profesi menjadi pengelola wisata sebagai bentuk pemberdayaan.
Kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia's FOLU Net Sink 2030 dilaksanakan pada 11‑13 Mei 2026 di kawasan TNGC. Forum ini diikuti perwakilan kehumasan kementerian/lembaga, lembaga konservasi swadaya masyarakat, serta pewarta nasional. Eksibisi edukatif yang diinisiasi Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut bertujuan mengangkat peran perempuan dalam aksi nyata pengelolaan hutan dan pencapaian target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Dalam hal ini Kemenhut berupaya menekan angka tersebut menjadi 1,2 miliar ton CO₂ ekuivalen atau penurunan sebesar 1,6 miliar ton, yang 60 persennya bertumpu pada sektor kehutanan dengan memastikan angka deforestasi lebih rendah dari baseline sebesar 0,31 juta hektare per tahun. Kemenhut berharap momentum ini memperkuat sinergi pemangku kepentingan dalam membangun narasi positif kebijakan kehutanan nasional melalui komunikasi publik yang efektif.
TNGC tetap menjadi sumber air penting, habitat satwa, dan platform wisata yang menggabungkan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Kemenhut terus memantau dan memperkuat upaya rehabilitasi serta melibatkan perempuan dalam pengelolaan hutan untuk mencapai target pengurangan emisi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Alwi Farhan Target Cetak Kenangan di Japan Open 2026
Ancaman Bahasa Gaul: Mulok Palembang Terkikis
Dahnil: Kasus Haji dan Umrah Jadi Koreksi Revolusioner
BNPB Bentuk Forum Mitigasi 20 Tahun Tsunami Pangandaran
Logo HUT ke-458 Madiun: Simbol Kolaborasi dan Inovasi
Dua Arca Perunggu Abad ke-8 Kembali ke Indonesia
De la Fuente: Saya Pejuang, Tak Minta Hasil dalam Doa
Anderson Jadi Kunci Inggris Redam Messi
Tencent Cloud Rilis Dua Agen AI di Indonesia