Kementan Peringat: Paracetamol Bukan Pupuk Cabai Pemerintah

Putri N. · 2 min baca · 3 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Kementan Peringat: Paracetamol Bukan Pupuk Cabai Pemerintah

Gambar atau konten salah?

Kementan mengingatkan petani tentang risiko serius jika paracetamol dan vitamin B complex dipakai untuk menyuburkan tanaman cabai. Peringatan ini muncul setelah aksi viral di media sosial, di mana seorang petani menunjukkan cara menggunakan obat manusia pada kebunnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan bahwa belum ada kajian resmi di Indonesia yang merekomendasikan paracetamol sebagai sarana produksi pertanian. Ia menambahkan bahwa praktik ini, yang dilakukan secara luas tanpa dasar ilmiah dan tanpa pengawasan, menimbulkan beberapa potensi risiko.

Risiko pertama adalah residu senyawa farmasi yang dapat tersisa di lingkungan dan berpotensi masuk ke rantai pangan jika digunakan secara berlebihan. Risiko kedua adalah gangguan pada mikroorganisme tanah dan ekosistem pertanian. Ketiga adalah pemborosan biaya produksi karena efektivitasnya belum terbukti, "(Ketiga) berpotensi menyebabkan pemborosan biaya produksi karena efektivitasnya belum terbukti," ujarnya, dikutip Jumat, 19 Juni 2026. Risiko keempat adalah persepsi keliru di masyarakat bahwa obat manusia dapat menggantikan input pertanian yang telah melalui proses registrasi dan pengujian. Risiko kelima, menurut beberapa penelitian internasional, adalah tanaman dapat menyerap paracetamol dari media tanam dan mengakumulasikannya pada jaringan tanaman dalam kondisi tertentu, sehingga perlu kehati-hatian terhadap penggunaan senyawa farmasi pada tanaman pangan. Namun, penelitian tersebut dilakukan dalam kondisi laboratorium dan belum menjadi dasar untuk merekomendasikan penggunaannya dalam budidaya pertanian.

Agung menilai bahwa fenomena ini kemungkinan didorong oleh upaya petani mencari alternatif murah di tengah tingginya biaya produksi. Namun, dari sisi ilmiah dan kebijakan, praktik tersebut belum memiliki dasar rekomendasi resmi dan sebaiknya tidak dipopulerkan sebelum tersedia hasil penelitian yang komprehensif mengenai efektivitas, keamanan, dampak lingkungan, serta potensi residunya pada hasil panen. Ia menegaskan bahwa pendekatan budidaya yang mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) tetap menjadi pilihan yang paling aman bagi petani maupun konsumen.

Untuk mengantisipasi tren ini semakin meluas, Agung memastikan pengawasan dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan budidaya di lapangan. Ia juga mengedukasi pentingnya penggunaan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang memiliki izin edar serta telah melalui uji keamanan dan efektivitas. Menurutnya, melakukan monitoring praktik budidaya di wilayah binaan dan memberikan pembinaan apabila ditemukan penggunaan bahan yang tidak direkomendasikan juga penting dilakukan. Ia menambahkan, "Berkoordinasi dengan dinas pertanian daerah untuk meningkatkan literasi petani terhadap informasi yang beredar di media sosial agar tidak mudah mengikuti praktik yang belum terbukti secara ilmiah."

Video yang beredar di media sosial menampilkan seorang petani cabai menggunakan obat-obatan seperti paracetamol dan vitamin B complex untuk perkebunan cabainya. Dalam video tersebut, terlihat sekantong plastik vitamin B complex dan satu kotak paracetamol. Petani tersebut menyatakan bahwa cara tersebut berhasil untuk menyuburkan tanamannya, dengan alasan bahwa "Cabai ya di(pakai) paracetamol, ada vitamin B complex, tapi ya jadinya joss," ujarnya sembari memperlihatkan hamparan kebun cabai yang tumbuh menghijau. (rea/ara)

Keseluruhan peringatan ini menegaskan pentingnya mengikuti pedoman resmi dan menghindari penggunaan obat manusia pada tanaman. Praktik yang tidak didukung oleh data ilmiah dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, kesehatan konsumen, dan keberlanjutan produksi pertanian.

paracetamolvitamin B complexpetani cabairisiko residu farmasiGood Agricultural Practices (GAP)pengawasan pertanianmedia sosial viral

Komentar

Memuat komentar...