RT 05 Kediri Luncurkan Sistem Darurat Digital Swadaya
Gambar atau konten salah?
Di RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, warga telah menyiapkan sistem keamanan digital yang dibuat sendiri. Sistem ini menggabungkan aplikasi panic button, peringatan dini gempa bumi dan cuaca ekstrem, serta layanan administrasi digital. Semua terhubung ke jaringan speaker toa yang tersebar di lingkungan.
Ketua RT 05 RW 05, Adi Aminoto, menjelaskan bahwa inisiatif ini berasal dari keinginan warga untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan situasi darurat sebelum terjadi. Sistem ini sudah berjalan selama enam bulan dan mendapat sambutan positif dari penduduk.
“Ini murni inisiatif warga. Kami ingin mengantisipasi sebelum terjadi sesuatu, sehingga warga sudah siap ketika ada kondisi darurat,” kata Adi kepada detikJatim, Senin (27 April 2026).
Keberhasilan proyek ini terletak pada modal swadaya sebesar Rp 5 juta. Dana tersebut dipakai untuk membeli PC, proyektor, kabel, speaker toa, mixer, dan perlengkapan pendukung lainnya. Semua perangkat dipasang secara bersama‑sebagai warga.
Lingkungan RT 05 kini dilengkapi enam speaker toa dan enam kamera CCTV yang tersebar di titik‑titik strategis. Semua perangkat tersebut juga hasil swadaya.
Fitur unggulan sistem ini adalah Panic Button. Dengan menekan tombol di smartphone, suara peringatan langsung diputar lewat speaker toa dan notifikasi dikirim ke pengurus RT. Sistem ini terhubung dengan GPS lokasi pengguna, email, dan grup WhatsApp pengurus RT, sehingga posisi kejadian dapat dipantau secara real time.
“Kalau dulu menggunakan kentongan, sekarang kami buat lebih efektif dengan panic button. Warga tidak perlu keluar rumah saat ada orang mencurigakan. Cukup tekan tombol di aplikasi, warga lain langsung mengetahui lokasi yang membutuhkan bantuan,” jelas Adi. Fitur ini dapat diaktifkan untuk pencurian, kebakaran, kebutuhan bantuan medis, dan kondisi darurat lainnya.
Selain itu, warga mengembangkan aplikasi bernama Seismik Gayam Siaga yang terhubung langsung ke server Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Aplikasi ini memantau informasi gempa bumi yang dapat dirasakan di wilayah Kediri dan Mataraman.
“Aplikasi ini terhubung langsung dengan data BMKG. Jadi kalau ada gempa yang dirasakan di wilayah Kediri dan Mataraman, sirine otomatis berbunyi disertai pengumuman suara,” terang Adi. Ketika BMKG mengeluarkan peringatan gempa atau potensi tsunami, sistem langsung membunyikan sirine dan menyiarkan pengumuman otomatis melalui toa lingkungan.
Inovasi ini menunjukkan bagaimana komunitas dapat memanfaatkan teknologi sederhana untuk meningkatkan keamanan dan kesiapsiagaan. Dengan modal terbatas dan kerja sama warga, sistem ini menjadi contoh nyata kolaborasi swadaya yang efektif di tingkat lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Berita Terbaru
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Perpres No.27 2026 Turunkan Komisi Ojek Online Jadi 8%
Riquelme Tantang Perez: Janji Haaland & Beban Anggota
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
