SD Tanpa Murid Baru, MPLS Tetap Jalan
Gambar atau konten salah?
Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri 04 Selomoro, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, berlangsung berbeda tahun ini. Pasalnya, dalam Seleksi Penerimaan Siswa Baru (PPDB) 2026, sekolah tersebut tidak mendapatkan satu pun siswa baru.
Guru Kelas 3 SDN 04 Selomoro, Dwi Nunus Susilawati, menjelaskan situasi yang terjadi. "Untuk SD Selomoro 4 tahun ini kebetulan tidak mendapat murid. Dapat satu, hanya usianya itu belum memenuhi, baru 5,1 (tahun). Jadi istilahnya di-inter lebih dulu karena di sini tidak ada TK-nya, gitu," kata Dwi saat ditemui di SDN 04 Selomoro, Jenawi, Karanganyar, Rabu (15 Juli 2026).
Tidak ada taman kanak-kanak di lingkungan sekolah tersebut. Meskipun demikian, di Selomoro terdapat empat SD. "Jaraknya jauh (TK) juga karena letak geografisnya di sini ya, itu jauh. Panjenengan (Anda) tadi ke sana kan sebelah kanan dari sini ya, harus ke Seloromo 3, atau pun ke Seloromo 1, atau ke Seloromo 2," ungkapnya.
Dwi merasakan perbedaan yang cukup mencolok saat tidak ada siswa baru. Tahun ajaran sebelumnya, sekolah hanya mendapat satu siswa baru. "Ya jelas berbeda, karena hari ini nggak ada, saat ini nggak ada, kemarin ada gitu. Jadi lebih meriah yang kemarin. Ya (tahun kemarin) dapat satu," tuturnya.
Dengan jumlah siswa yang sedikit, pihak sekolah menggabungkan beberapa kelas. "Kelas besarnya hanya jumlah sedikit mengikuti gabung biar jadi rame gitu dalam satu minggu ya," bebernya.
Meskipun tidak ada murid baru, sekolah tetap menggelar MPLS. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas 2 hingga 6 SD. "Untuk saat ini juga ini kan yang kelas 2 sampai 6 itu kan MOS, masa orientasi sekolah itu, jadi nanti pembelajaran itu dimulai hari Senin full gitu. Tetap ada (pengenalan sekolah), karena kan 3 minggu sudah libur, jadi mungkin anak-anak terlena di rumah berlibur jadi kita harus apa, penyesuaian lagi gitu," jelasnya.
Para guru SDN 04 Jenawi tidak tinggal diam. Mereka berusaha menjaring siswa baru dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan melakukan jemput bola, bahkan menerima siswa yang usianya belum memenuhi syarat.
"Dari dulu yang saya lakukan dengan bapak ibu guru di sini, kita door to door. Jadi walaupun usianya itu belum memenuhi syarat, kita tetap menerima ya, karena saya di sini kan juga dari SPG, jadi saya kelompokkan menjadi dua, misalnya kelas 1A dan 1B. Juga saya berikan rapor, tapi yang B itu istilahnya kayak pupuk bawang TK lah gitu. Saya pernah, 2 tahun, jadi dia itu masuk sini baru umur 4 tahun, tetap saya terima, karena kalau nanti tidak diterima, pasti kan lari tidak jadi ke sini," jelasnya.
Selain itu, sekolah juga memberikan seragam gratis. "Terus kemudian juga ada seragam gratis, setiap masuk seragam gratis satu setel merah-putih, kemudian juga ada les-nya juga gratis," sambungnya.
Dwi mengaku, para guru rela merogoh kocek dari kantong pribadi untuk membelikan seragam. Hal ini dilakukan karena berkurangnya siswa juga berdampak pada dana BOS yang diterima sekolah. "Patungan dari guru pribadi, nggih. Karena untuk apa, administrasi sekolah saja untuk setiap bulannya saja kan kalau murid sedikit kan terima BOS-nya juga sedikit, jadi ya harus maklum. Memang di sini kerja di sini itu memang rasa kemanusiaan harus ada, dan yang kita cari hanya barokahnya," ujarnya.
Kendala utama untuk mendapatkan murid adalah lokasi sekolah yang jauh. Menurut Dwi, sempat ada wacana regrouping, namun tidak disetujui oleh wali murid. "Kendalanya di sini ya, karena muridnya itu ya dukuhnya kan cuma satu pokoh ya, jadi hanya yang di bawah itu, di sini beberapa rumah, kemudian di bawah itu ada beberapa rumah namanya desa Purworejo. Nah kalau kita ke Seloromo 3, kemarin pernah mau di apa Mas, regrouping ya, tapi dari pihak wali murid itu rapat di sini tidak setuju karena kalau ke sana itu wali murid harus mengeluarkan uang untuk ngojek itu, biaya pulang-pergi, antar-jemput antar-jemput kan mengeluarkan biaya, sedangkan orang sini kan kerjanya juga tahu sendiri, buruh," bebernya.
Saat ini, total siswa di SDN 04 Selomoro adalah 14 orang. Rinciannya, kelas 2 ada 1 siswa, kelas 3 ada 3 siswa, kelas 4 ada 4 siswa, kelas 5 ada 4 siswa, dan kelas 6 ada 2 siswa. "Totalnya kelas 1 nggak ada ya, kelas 2-nya satu, kelas 3-nya tiga, kelas 4-nya empat, kelas 5-nya empat, kelas 6-nya dua," pungkasnya.
Situasi di SDN 04 Selomoro mencerminkan tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Letak geografis yang sulit, minimnya fasilitas pendidikan seperti TK, dan keterbatasan ekonomi orang tua menjadi faktor utama sepinya peminat. Para guru berusaha keras dengan cara-cara kreatif dan pengorbanan pribadi, namun tetap saja jumlah siswa terus menurun. Ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan di daerah bukan sekadar soal kurikulum atau metode mengajar, melainkan juga soal akses dan keberlanjutan sekolah itu sendiri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ulat di Menu MBG Boyolali, Dinkes: Cuci Kurang Bersih
Siswi SMK Klaten Ditemukan di Kos Kakaknya
Truk Mercy Mogok di Jembatan Sayung, Macet 4,3 Km
Kuntadi Diusulkan Jadi Jampidsus Baru
Embun Beku Kembali Selimuti Puncak Merbabu, Suhu Capai Minus 1 Derajat
Dua Pejabat Sukoharjo Ditunjuk Gantikan Kepala OPD Tersangka
Berita Terbaru
Polisi Larang Bendera Malvinas di Semifinal Inggris Vs Argentina
SD Tanpa Murid Baru, MPLS Tetap Jalan
Kertajati Resmi Jadi Pusat Industri Dirgantara Nasional
Inggris vs Argentina Perebutkan Tiket Final Piala Dunia 2026
Pemancing Hilang Terseret Ombak di Pantai Pulau Merah
Layanan Sewa Teman BBQ Marak di Rusia
Gunung Merbabu Membeku, Pendaki Waspada
Mogok Buruh Hyundai: Upah dan Ketakutan Robot Humanoid
