Tulungagung Tangani 4.498 Kasus HIV, 1.298 Kematian

Hendra M. · 3 min baca · 1 jam lalu · 33 dibaca
Bisik.id
Tulungagung Tangani 4.498 Kasus HIV, 1.298 Kematian

Gambar atau konten salah?

4.498 kasus HIV/AIDS telah terdeteksi di Tulungagung selama sepuluh tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, 1.298 orang telah meninggal. Data ini menunjukkan beban penyakit yang cukup besar di wilayah tersebut.

Menurut Ifada Nur Rohmaniah, sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung, temuan orang dengan HIV (Odhiv) dapat dilacak berkat upaya penelusuran terus-menerus yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Tulungagung bersama jajaran terkait. “Angka secara komulatif sejak 2006-2026 tercatat ada 4.498 kasus. Jadi setiap tahun terus dilakukan pelacakan dan ditemukan dalam jumlah puluhan hingga ratusan kasus,” ujarnya pada 07 Juni 2026.

Setiap tahun, tim terpadu dari berbagai instansi memantau kasus baru. Mereka tidak hanya mencatat angka, tetapi juga mengidentifikasi lokasi dan kondisi pasien untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Selain pelacakan, KPA Tulungagung menekankan pentingnya pendampingan. “Tentunya itu bentuk komitmen daerah bahwa respon isu HIV itu bukan hal sementara tapi kan memang seterusnya,” ungkap Ifada. Pendampingan ini meliputi pengobatan, edukasi, dan dukungan emosional.

Di sisi lain, upaya psikososial juga diuat. Pihaknya memberikan bantuan pangan dan mendampingi keluarga pasien. Hal ini bertujuan mengurangi stigma dan memberi motivasi bagi pasien untuk tetap menjalani terapi.

Tim KPA juga sering mengumpulkan para Odhiv untuk pembinaan bersama. Kegiatan ini mencakup aspek kesehatan dan keagamaan, sehingga pasien merasa lebih kuat dan tidak terisolasi.

Dr. Aris Setiawan, Kabid Pencegahan dan Pengendalian (P2P) Dinkes Tulungagung, menjelaskan bahwa dari ribuan kasus, 3.242 orang telah terjangkau oleh obat antiretroviral (ARV). Namun, 1.476 orang masih dalam pengobatan aktif.

Dr. Aris menambahkan bahwa masih ada pasien yang putus layanan. “Memang betul masih ditemukan sejumlah kasus putus layanan, di antaranya 50 orang tidak hadir kontrol kurang dari 3 bulan, 246 orang gagal follow-up antara 3-24 bulan, serta 1.152 orang tidak aktif lebih dari 24 bulan,” ia katakan. Keteraturan kontrol tetap menjadi tantangan bagi dinas kesehatan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dr. Aris berharap kolaborasi lintas sektor dapat membantu pasien aktif menjalani pengobatan. “Harapannya bahwa apa yang memang saat ini kita belum optimal, kita bisa dorong. Kita bisa dampingi. Kita bisa memenuhi apa yang memang seharusnya mereka bisa dapat,” tambahnya.

Desi Lusiana Wardani, Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, mengonfirmasi bahwa layanan ARV telah tersedia di 32 puskesmas, empat klinik testing dan 13 rumah sakit di seluruh kecamatan. “Untuk teman-teman Odhiv yang ingin mengakses ARV sudah bisa didapatkan di 32 puskesmas ditambah empat klinik testing dan di 13 rumah sakit,” kata Desi.

Pasien diharapkan datang sendiri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan obat. “Untuk mengakses ARV tersebut para pasien diharapkan datang sendiri ke layanan kesehatan. Harapannya selain memberikan layanan obat, pihak medis juga dapat memantau langsung kondisie fisik pasien,” jelas Desi.

Mayoritas fasilitas kesehatan di Tulungagung juga menyediakan layanan HIV. Mereka melakukan skrining dan pemeriksaan rutin. “Tidak hanya layanan ARV mayoritas fasilitas kesehatan di Tulungagung juga memiliki layanan HIV. Sehingga bisa melakukan skrining maupun layanan pemeriksaan. Untuk setiap wanita usia produktif pasti akan melewati skrining tersebut. Kemudian Ibu hamil atau pada saat dia akan melahirkan itu juga kita lakukan skrining untuk bersama. Sehingga kita bisa memantau dalam artian apakah ada penambahan kasus baru,” jelasnya.

Dengan upaya terpadu ini, Tulungagung berusaha menekan angka kematian dan meningkatkan harapan hidup bagi pasien HIV. Program pengobatan, pendampingan psikososial, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi tantangan HIV di daerah ini.

HIV/AIDSTulungagungKasusARVPendampingan psikososialKolaborasi lintas sektorLayanan kesehatan

Komentar

Memuat komentar...