Banjir Rob Rendam Sekolah di Surabaya, MPLS Tetap Jalan

Ani R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Banjir Rob Rendam Sekolah di Surabaya, MPLS Tetap Jalan

Gambar atau konten salah?

Air laut pasang menggenangi halaman SD Karya Putra dan dua ruang kelas di Kalianak Timur Belakang, Krembangan, Surabaya, pada Selasa siang, 14 Juli 2026. Puluhan siswa tetap mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) meski lantai kelas terendam banjir rob.

Banjir rob juga merendam puluhan rumah warga dan sebuah masjid di kawasan tersebut. Namun, genangan air tidak menghentikan aktivitas sehari-hari. Anak-anak tetap berangkat sekolah. Warga beraktivitas seperti biasa, hanya dengan mengenakan sandal dan menggulung celana mereka.

Di SD Karya Putra, siswa kelas VI yang ruang belajarnya terkena dampak tetap mengikuti pelajaran. Mereka terpaksa memakai sandal di sekolah. Beberapa bahkan tidak memakai alas kaki sama sekali.

Sekolah yang berdiri sejak sekitar tahun 1997 ini sudah lama menjadi langganan banjir rob. Saat ini, SD Karya Putra memiliki sekitar 195 siswa.

Nanda (60), seorang guru di SD Karya Putra, mengatakan banjir rob besar bisa merendam hampir seluruh area sekolah. Tapi kalau air tidak terlalu tinggi, biasanya hanya dua ruang kelas yang terdampak.

"Kalau besar baru semuanya terendam. Kalau tidak terlalu besar ya biasanya dua kelas ini yang sering kena," kata Nanda pada Rabu, 15 Juli 2026.

Menurutnya, banjir rob kini datang lebih sering dibanding beberapa tahun lalu. Hampir setiap bulan air laut pasang masuk ke lingkungan sekolah.

"Mulai ada pelebaran sungai itu malah tambah sering," ujarnya.

Meski ruang kelas tergenang, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Pihak sekolah hanya menyesuaikan kondisi saat air mulai masuk ke kelas.

"Yang kasihan anak-anak. Harapan kami pemerintah bisa memberikan bantuan supaya anak-anak tidak belajar dalam kondisi banjir lagi," ungkapnya.

Guru lain, Yuli (44), mengatakan siswa sudah terbiasa menghadapi banjir rob. Karena itu, kegiatan belajar tetap berjalan normal. Saat musim rob, siswa biasanya diminta membawa sandal sebagai antisipasi.

"Terpaksa harus bawa sandal saat banjir rob, biasanya orang tua juga jemput," imbuhnya.

Yuli juga mengingat momen saat banjir rob datang ketika siswa tengah menjalani ujian tahun lalu.

"Waktu itu anak-anak sedang mengerjakan ujian TKA. Banjir datang saat kegiatan berlangsung, jadi tetap mengerjakan ujian dalam kondisi banjir," tuturnya.

Sementara itu, Hendro (63), warga Kalianak Timur Belakang, mengatakan banjir rob telah menjadi bagian dari kehidupan warga. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ketinggian air semakin meningkat.

"Saya 63 tahun di sini ya sudah banjir. Tapi akhir-akhir ini makin parah tingginya," kata Hendro.

Menurutnya, sedikitnya lima RT di kawasan tersebut terdampak setiap kali banjir rob datang. Meski demikian, warga memilih tetap beraktivitas seperti yang sudah mereka lakukan selama puluhan tahun.

Selain menggenangi pemukiman warga hingga sekolah, banjir rob juga meluber ke jalan, tepatnya di Jalan Kalianak. Akibatnya, kendaraan pribadi hingga truk harus melaju perlahan saat melintas.

Banjir rob di kawasan Kalianak Timur Belakang, Krembangan, Surabaya, sudah berlangsung puluhan tahun. Warga dan sekolah setempat telah beradaptasi dengan kondisi ini, meskipun ketinggian air dilaporkan semakin parah dalam beberapa tahun terakhir. Kegiatan sehari-hari, termasuk sekolah, tetap berjalan meski dalam kondisi tergenang.

banjir robSD Karya PutraSurabayaMPLSadaptasiKrembanganKalianak

Komentar

Memuat komentar...