BMKG: Sesar Kendeng Bisa Guncang Bojonegoro, Tetap Waspada
Gambar atau konten salah?
BMKG mengungkapkan bahwa aktivitas sesar Kendeng di Pulau Jawa dapat memicu gempa darat dengan magnitudo hingga 7. Meski demikian, petugas meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik terhadap informasi yang beredar di media sosial.
Topik ini menjadi bahan perbincangan ketika seorang pengguna Threads, @hsuliz2021, menulis bahwa gempa Palu berpotensi terjadi di Bojonegoro dan sesar Kendeng dapat menimbulkan gempa daratan mencapai Magnitudo 7. Unggahan tersebut memicu komentar dan kekhawatiran di kalangan warganet.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr, menjelaskan bahwa potensi gempa darat magnitudo 7 akibat sesar Kendeng memang ada. Ia menyebut, “Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back‑arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi magnitudo enam sampai tujuh.”
Menurut Ricko, Java Back‑arc Thrust merupakan sistem sesar yang meliputi wilayah Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Sistem ini terdiri dari enam segmen utama yang melewati berbagai kota dan kabupaten. Segmen‑segmen tersebut meliputi Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang (melintasi Lamongan), Surabaya (melintasi jantung Kota Surabaya), dan Waru (melintasi Sidoarjo).
Secara administratif, jalur sesar ini melintasi kota dan kabupaten berikut: Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya. Dalam catatan BMKG, panjang sesar Kendeng mencapai sekitar 300 kilometer di bagian utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur.
Ricko menambahkan bahwa sesar Kendeng terakhir kali aktif dan menimbulkan dampak signifikan pada tahun 1915. Ia menekankan bahwa sesar ini bergerak lambat, sekitar 5 milimeter per tahun, dan memiliki periode ulang gempa yang panjang. Akibatnya, gempa besar akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu.
Berikut beberapa gempa besar yang pernah terjadi akibat sesar Kendeng: pada tahun 1836 dan 1837, gempa merusak wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang dengan estimasi kekuatan antara Magnitudo 6 hingga 7 jika dikonversi ke skala modern. Pada tahun 1862 dan 1915, gempa merusak wilayah Madiun. Pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, BMKG mendeteksi aktivitas seismik berupa gempa‑gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar Kendeng. Aktivitas ini masih bersifat dangkal dan tidak menunjukkan peningkatan intensitas yang signifikan.
Di sisi lain, unggahan akun Threads hsuliz2021 menyebut bahwa gempa Palu bermagnitudo 6,7 dapat memicu gempa di sejumlah daerah, termasuk Bojonegoro, Jawa Timur. Ia menulis, “Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6‑7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi.”
Pengguna tersebut juga menyebutkan tekanan lempeng bumi telah mencapai angka tertentu, “Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6‑7‑8.” Pernyataan ini tidak didukung oleh data resmi BMKG dan lebih bersifat spekulatif.
Dr. Ir. Amien Widodo, peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, menjelaskan posisi Palu jauh dari Pulau Jawa. Ia menegaskan, “(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung.”
Menurut Amien, gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu‑Koro dengan pergerakan menuju barat laut, menjauh dari wilayah Jawa. Ia menambahkan, “Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu‑Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi.”
Amien juga menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi gempa di Jawa kemungkinan berasal dari zona megathrust di selatan Jawa. Ia berkata, “Kalau di Jawa itu memang ada sesar‑sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu. Kalau dari utara kan jarang. Dari utara itu yang terakhir kan yang sesar itu Bawean.”
Dengan demikian, meskipun ada potensi gempa darat magnitudo 7 akibat sesar Kendeng, BMKG menekankan bahwa tidak ada prediksi pasti kapan, di mana, atau seberapa kuat gempa tersebut akan terjadi. Petugas mengajak masyarakat untuk tetap waspada, tetapi tidak panik, dan mengingatkan pentingnya persiapan sebelum, sesaat, dan setelah gempa bumi.
Secara keseluruhan, informasi yang beredar di media sosial tentang hubungan antara gempa Palu dan gempa di Bojonegoro masih bersifat spekulatif. Data resmi BMKG menunjukkan bahwa sesar Kendeng memiliki potensi magnitudo 7, namun aktivitas seismik terkini masih berskala kecil hingga menengah. Masyarakat di wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, disarankan untuk mengikuti arahan BMKG dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang telah disosialisasikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemadaman Listrik Bergilir di Pasuruan Mengganggu Warga
Pemadaman Listrik Surabaya Mengganggu Lampu Lalu Lintas
BMKG Klarifikasi Sesar Kendeng: Risiko Gempa di Jawa Timur
Munas-Konbes NU di Kediri: UMKM, Kuliner, Sejarah dan Tradisi
Gempa 6,7: Bojonegoro Rasakan Ringan, Tanpa Gempa Darat
Letusan Semeru 19 Juni: Pendakian Puncak Ditutup di Bromo
Berita Terbaru
BMKG: Sesar Kendeng Bisa Guncang Bojonegoro, Tetap Waspada
Tantangan Otak: Mainkan Game Jalur Visual Menantang Konsentrasi
Pria Pakai Kebaya di Kirab 1 Suro, Gema Kritik Adat
Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan Tertunda, Masih Tertutup
Burung Perkici Muka Biru Kembali Terlihat di Pulau Buru
Kementan Peringat: Paracetamol Bukan Pupuk Cabai Pemerintah
Sumatra Utara Hadapi Hujan Lebat, Kabupaten Terancam
