BPBD Pinrang Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan
Gambar atau konten salah?
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, resmi menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan. Keputusan ini diambil setelah empat kecamatan di wilayah tersebut teridentifikasi rawan mengalami krisis air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Pinrang, Rhommy RM Manule, menyatakan bahwa status siaga darurat hidrometeorologi kering telah berlaku sejak Mei hingga Juli. Penetapan ini tidak semata-mata didasarkan pada kejadian bencana yang sudah terjadi di lapangan. Lebih dari itu, kebijakan ini merujuk pada peringatan dini cuaca dan iklim yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta arahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kami menetapkan status siaga darurat berdasarkan peringatan dini cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG Wilayah IV Sulawesi Selatan, update dasarian BMKG RI yang berlaku secara nasional, serta penyampaian dari Pusdatinkom BNPB kepada seluruh jajaran BPBD di Indonesia," jelas Rhommy.
Meski status siaga darurat telah diberlakukan, BPBD Pinrang memastikan bahwa ketersediaan air baku bagi masyarakat masih terjaga. Hingga saat ini, belum ada laporan yang masuk, baik dari warga maupun aparat pemerintah, TNI, dan Polri, mengenai wilayah yang tidak terjangkau pasokan air bersih.
"Untuk saat ini belum ada laporan dari warga masyarakat dan aparat setempat, baik TNI maupun Polri, terkait tidak terjangkaunya pasokan kebutuhan air baku bagi warga masyarakat," ujarnya.
Berdasarkan data terbaru dari Pusdalops BPBD Pinrang sejak Mei, wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih terbagi menjadi dua kategori: dataran tinggi dan dataran rendah. Di dataran tinggi, dua kecamatan yang diwaspadai adalah Kecamatan Lembang dan Batulappa. Kedua wilayah ini sangat bergantung pada sumber mata air pegunungan. Sementara itu, di dataran rendah, Kecamatan Suppa dan Lanrisang menjadi perhatian karena sebagian besar kebutuhan airnya bergantung pada sumber air tanah.
"Ada 4 kecamatan atau wilayah yang kita identifikasi berpotensi mengalami krisis air bersih yakni Kecamatan Lembang, Batulappa, Suppa dan Lanrisang," tutur Rhommy.
Selain kekeringan, BPBD juga memetakan potensi ancaman kebakaran lahan selama musim kemarau. Beberapa kecamatan yang perlu mendapat perhatian ekstra adalah Suppa, Mattiro Bulu, Patampanua, dan Lembang. Kebakaran lahan di wilayah-wilayah ini umumnya dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan perkebunan dengan cara dibakar.
Untuk kebakaran rumah dan pekarangan, BPBD mencatat potensi ancamannya hampir merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Pinrang. Sebagian besar kejadian kebakaran rumah dan pekarangan dipicu oleh faktor kelalaian manusia. Oleh karena itu, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
Secara keseluruhan, langkah BPBD Pinrang ini merupakan bentuk antisipasi terhadap dampak musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung hingga pertengahan tahun. Meskipun belum ada laporan krisis air, pemetaan wilayah rawan dan potensi kebakaran lahan menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas utama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Mahasiswa UINSA Dobrak Pagar, Tuntut Rektor
BPBD Pinrang Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan
DPRD Desak Penertiban Angkot Tak Layak Jalan
Tahura R Soerjo Petakan Titik Rawan Kebakaran
5 Cara Mudah Pilih Ikan Segar Sebelum Beli
Prabowo Terbitkan Inpres Selamatkan Gajah Sumatra dan Kalimantan
Kunjungan Wisman Capai 1,38 Juta di Mei 2026
Spanyol ke Final Usai Bungkam Prancis 2-0
Japan Open 2026: Dua Wakil Indonesia Lolos, Satu Pulang
